SURABAYA, AIANews.id – Sebanyak 14 pedagang makanan dan minuman (mamin) di Sememi, Benowo jadi korban penipuan berkedok pinjaman online (pinjol) tanpa bunga.
Modus yang digunakan komplotan pelaku yakni, memanfaatkan program pinjaman dana UMKM guna menjebak para korbannya.
Disampaikan salah satu korban Heni Purwaningsih, kasus penipuan ini diduga kuat melibatkan oknum pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkot Surabaya dengan total kerugian mencapai Rp 210 juta.
“Awalnya itu dari adanya sosialisasi program pinjaman dana UMKM yang digelar pada 31 Oktober 2024 di kantor Kelurahan Sememi. Kami pun percaya karena sosialisasi dilakukan di kantor kelurahan dan yang menjelaskan bilangnya pegawai dari Pemkot Surabaya,” ucap Heni, Senin, 3 Februari 2025.
Namun begitu, kata Heni, korban hanya dijanjikan. Saat sosialisasi rampung, uang pinjaman tak langsung cair.
Justru seluruh korban mendapatkan pemberitahuan tagihan pinjol dari Kredivo atas pembelian belanja alat dapur dan perlengkapan kecantikan.
Pesanan online tersebut dikirimkan ke alamat CV Grand Jaya di Jalan Pangeran Antasari, Kelurahan Kenanga Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
“Malah dipesan sama salah satu pelaku kalau ada Kredivo nagih abaikan. Nanti kalau dapat Rp 5 juta bayarnya nyicilnya ke dia (pelaku),” ucapnya.
Heni merinci, pelaku diantaranya yakni, Bramasta Ariza Riyaldi yang mengaku sebagai tangan kanan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Dalam aksinya, Bramasta melibatkan Joko, seorang pengusaha. Juga Rengga Pramadika Akbar, petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya sekaligus putra dari kepala Kelurahan Sememi.
Ketiga pelaku tersebut kini resmi dilaporkan ke Polrestabes Surabaya dengan nomor laporan STTLPM/22/I/2025/SPKKT/Polrestabes Surabaya atas tuduhan penipuan dan penggelapan.
Sementara itu, korban lainnya Ardi Sumarta menyebut, para pelaku mengaku utusan dari Pemkot Surabaya.
Mereka menjanjikan dana pinjaman tanpa bunga cukup dengan fotokopi KTP. Pihaknya lantas tergiur dan percaya.
“Kami datang ikut sosialisasi dan diberi nasi kotak bersama korban lain. Kemudian pada saat sosialisasi, ponsel kami diminta beserta KTP dan KK. Bilangnya untuk mengecek BI checking,” ungkap Ardi.
Setelah sosialisasi, para korban lalu dikunjungi oleh pelaku Bram di rumah dan tempat usaha masing-masing.
Ponsel para pedagang yang sebelumnya dikumpulkan tersebut dibuatkan aplikasi. Mereka saat itu yakin karena ada anak dari Lurah Sememi yang hadir.
Namun betapa terkejutnya Ardi, seminggu pasca sosialisasi dana pinjaman tak kunjung cair. Yang ada justru tagihan dari aplikasi pinjol.
“Saya mendapat tagihan atas pembelian ponsel Samsung Galaxy 2 Fold senilai Rp13 jutaan dengan alamat pengiriman Jalan Karah V Nomor 32, Jambangan, Surabaya. Padahal saya tidak pernah mendapat dan menerima barang tersebut,” tutur Ardi.
Hal senada disampaikan korban lain, Febriana. Ibu dua anak ini mengaku tertipu Rp 30 juta. Dia memiliki pinjol di dua aplikasi. Setiap bulan harus menyicil Rp 3 juta akibat ulah pelaku Bram. Bahkan saat ini sudah masuk bulan ketiga.
Pada akun Shopee milik Febriana ada tagihan pembelian kuku palsu senilai Rp 12 juta dan liontin senilai Rp 1 juta pengiriman di Kota Cirebon. Padahal barang tersebut tidak pernah diterima.
“Anehnya di alamat pengiriman rumahku, tapi kotanya di Cirebon,” terangnya.
Febriana meyakini itu adalah pesanan fiktif. Sebab ketika dicek rekening yang didaftarkan di akun pinjol tersebut atas nama pelaku Bram.
“Jadi Bram setelah membuat akun pinjaman online itu pesan barang dengan alamat fiktif. Sehingga kurir mengembalikan barang ke toko. Karena dicancel uang cair ke rekeningnya,” jelas Febriana.
Febriana mengaku bersama belasan pedagang lainnya sempat mendatangi alamat Bram di kawasan Kemlaten, Surabaya. Namun alamat tersebut ternyata rumah tinggal mertuanya.
“Mertuanya malah minta nomor telepon Bram, dan tanya alamatnya sekarang,” tegasnya.
Terpisah, Kasihumas Polrestabes Surabaya AKP Rina Shanty Nainggolan membenarkan adanya laporan atas dugaan penipuan dan penggelapan tersebut. Saat ini, pihaknya masih melakukan penyelidikan.
“Masih dilakukan penyelidikan,” ucap Rina. (alm)



