Bullying di PPDS: Luka Mendalam di Balik Jubah Putih

oleh -193 Dilihat

Surabaya.AIAnews.id – Perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan, khususnya Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), menjadi sorotan publik belakangan ini. Kasus kematian seorang dokter muda yang diduga akibat perundungan semakin menguatkan bahwa masalah ini tidak bisa lagi dianggap remeh.

Dr. Dr. Rosidi Roslan, S.H., M.H., alumnus Doktor Ilmu Hukum UNS Surakarta, ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, memberikan pandangannya. “Perundungan di PPDS adalah bentuk pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan etika profesi. Ini bukan sekadar masalah pribadi, namun juga mencerminkan adanya disfungsi dalam sistem pendidikan kedokteran kita,” tegasnya.

Mengapa Bullying Terjadi di PPDS?

Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka bullying di PPDS antara lain:

  1. Hierarki yang Kaku: Struktur hierarki yang sangat kaku antara senior dan junior seringkali memicu terjadinya perundungan.
  2. Beban Kerja yang Tinggi: Beban kerja yang sangat tinggi dan tuntutan kinerja yang tidak realistis membuat peserta didik rentan mengalami stres dan mudah menjadi sasaran perundungan.
  3. Kurangnya Pengawasan: Kurangnya pengawasan dari pihak institusi pendidikan terhadap interaksi antar peserta didik juga menjadi salah satu penyebab.
  4. Kultur Diam: Budaya diam dan takut melapor membuat korban enggan untuk berbicara dan mencari bantuan.

Dampak Bullying di PPDS

Dampak dari bullying di PPDS sangat serius, tidak hanya bagi korban namun juga bagi institusi pendidikan dan masyarakat secara luas. Beberapa dampak yang mungkin terjadi antara lain:

  1. Gangguan Mental: Korban bullying sering mengalami gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri.
  2. Penurunan Kinerja: Perundungan dapat menurunkan motivasi belajar dan kinerja akademik korban.
  3. Kerusakan Reputasi Institusi: Kasus bullying dapat merusak reputasi institusi pendidikan dan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat.
Baca Juga:  Berkomunikasi dengan Empati: Strategi untuk Memahami dan Terhubung dengan Orang Lain

Solusi untuk Mengatasi Bullying di PPDS

Untuk mengatasi masalah bullying di PPDS, diperlukan upaya komprehensif dari berbagai pihak, antara lain:

  1. Peningkatan Pengawasan: Institusi pendidikan perlu meningkatkan pengawasan terhadap interaksi antar peserta didik.
  2. Pendidikan tentang Bullying: Seluruh civitas akademika perlu diberikan pendidikan tentang bullying, termasuk tanda-tanda bullying, dampaknya, dan cara mencegahnya.
  3. Pembinaan Mental: Menyediakan layanan konseling dan psikologi bagi peserta didik yang mengalami masalah.
  4. Penegakan Sanksi: Memberikan sanksi tegas kepada pelaku bullying.
  5. Perubahan Kultur: Membangun budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan menghormati perbedaan.

Dr. Dr. Rosidi menambahkan, “Selain upaya internal, perlu juga ada regulasi yang lebih kuat dari pemerintah untuk mencegah dan menindak kasus bullying di lingkungan pendidikan. Sanksi yang diberikan harus bersifat tegas dan memberikan efek jera.”

Bullying di PPDS adalah masalah serius yang harus segera diatasi. Dengan kerjasama semua pihak, diharapkan kasus seperti ini tidak terulang kembali dan lingkungan pendidikan menjadi tempat yang aman dan kondusif bagi semua peserta didik.

No More Posts Available.

No more pages to load.