SURABAYA, AIANews.id – Menjelang bulan suci Ramadan, aktivitas di Makam Tembok Dukuh, Surabaya, mulai ramai dengan lalu lalang peziarah.
Satu fenomena menarik yang menjadi sorotan di sini: keberadaan para pembersih makam sukarela. Mereka adalah warga sekitar yang secara ikhlas membersihkan makam untuk membantu peziarah, tanpa meminta imbalan tetap. Meski demikian, pekerjaan ini memberikan penghasilan tambahan bagi mereka melalui sumbangan sukarela dari para peziarah.
Salah satu pembersih makam sukarela yang sudah malang melintang selama dua dekade adalah Pak Ridwan (45) asal Tembok Dukuh. Pak Ridwan memiliki empat anak dan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain menjadi polisi cepek (membantu penyeberangan jalan), ia juga berjualan nanas di waktu senggang. Namun, rutinitas membersihkan makam telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
“Saya sudah melakukan ini selama 20 tahun. Tidak perlu izin khusus untuk membersihkan makam. Siapa pun boleh melakukannya,” ujar Ridwan, Minggu (23/2/2025).
Menurutnya, setiap makam bisa dibersihkan oleh 5 hingga 7 orang pembersih makam sukarela. Mereka bekerja sama membersihkan area makam, seperti mencabuti rumput liar, menyapu daun kering, dan membersihkan nisan dari debu atau lumut. Peziarah yang merasa terbantu biasanya memberikan imbalan sukarela, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per makam.
“Kalau hari Minggu kemarin, penghasilan saya bisa mencapai Rp. 250 ribu. Tapi kalau hari ini, lebih sepi, hanya dapat sekitar Rp. 75 ribu,” katanya.
Tradisi ini telah berjalan lama dan menjadi bagian dari budaya masyarakat sekitar. Di Makam Tembok Dukuh, tidak terlihat adanya pengemis. Semua orang yang bekerja di sini adalah pembersih makam sukarela, termasuk anak-anak, remaja, bahkan lansia.
Selain Pak Ridwan, ada juga Rudi (20) yang memilih menjadi pembersih makam untuk mengisi waktu luang. Baginya, pekerjaan ini bukan hanya tentang membantu peziarah, tetapi juga cara untuk mendapatkan uang jajan tambahan.
“Saya baru mulai beberapa tahun lalu. Awalnya iseng-iseng saja karena banyak teman yang juga melakukannya. Ternyata hasilnya lumayan untuk uang jajan,” kata Rudi sambil tersenyum.
Rudi mengaku bahwa ia bisa mendapatkan Rp. 130 ribu hingga Rp. 150 ribu dalam sehari jika bekerja di pagi hingga sore hari. Meski begitu, ia tidak melakukannya setiap hari.
Tidak hanya individu, bahkan ada keluarga yang turut serta melakukan kegiatan ini. Beberapa keluarga datang bersama-sama untuk membersihkan makam. Ada ayah, ibu, dan anak-anak yang bekerja sama membersihkan area makam.
“Banyak keluarga yang bekerja sebagai pembersih makan. Bahkan ada nenek-nenek yang masih semangat membersihkan makam. Ini pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja, tidak pandang usia,” tutur Ridwan. (alm)



