Fenomena Tahunan Penjual Jasa Tukar Uang Baru di Jalan Bubutan

oleh -98 Dilihat
Penjual Jasa penukaran uang baru yang mangkal Di jalan Bubutan.

SURABAYA, AIANews.od  –  Menjelang Hari Raya Idul Fitri, fenomena penjual jasa tukar uang baru kembali marak di berbagai titik Kota Surabaya. Salah satu lokasi yang menjadi pusat aktivitas ini adalah Jalan Bubutan, tepatnya di sekitar BG Junction.

Beberapa orang terlihat mangkal dengan membawa kantong-kantong berisi pecahan uang baru untuk melayani warga yang ingin menukar uang sebagai persiapan lebaran. Salah satu pelaku usaha musiman ini adalah Basrowi, seorang penarik becak asal Ampel yang rutin menjalankan bisnis ini setiap tahun.

Basrowi mengungkapkan bahwa ia memulai jasa penukaran uang baru dengan modal sebesar Rp80 juta.

“Kalau tidak habis, ya rugi, karena saya membeli dari pengepul dengan harga premium, bukan dari bank resmi. Misalnya, untuk pecahan Rp.1 juta, saya harus membayar tambahan Rp. 200 ribu sebagai biaya administrasi. Sementara untuk pecahan Rp. 5 juta, biayanya mencapai Rp. 600 ribu,” ujarnya.

Meski demikian, Basrowi optimis bahwa usaha ini akan menguntungkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Dalam sehari, ia bisa melayani puluhan orang, terutama pada jam-jam ramai seperti pagi hingga siang hari.

Penjual jasa tukar uang baru seperti Basrowi menawarkan layanan dengan harga yang sedikit lebih mahal dibanding nilai nominal uang. Contohnya, untuk penukaran Rp100 ribu, pelanggan harus membayar Rp120 ribu. Begitu pula untuk pecahan lainnya, ada selisih sekitar Rp20 ribu hingga Rp600 ribu tergantung jumlah uang yang ditukar.

“Orang-orang yang punya uang lebih biasanya nggak masalah bayar lebih. Yang penting mereka dapat uang baru buat angpau lebaran,” kata Basrowi.

Namun, bagi sebagian warga, harga yang lebih tinggi ini kadang membuat mereka berpikir dua kali.

“Kalau cuma Rp100 ribu, banyak orang yang mikir-mikir dulu karena harga yang lebih mahal dari pada tahun sebelumnya,” ujarnya

Baca Juga:  Gus Ipul Tekankan, Hadirnya Sekolah Rakyat Adopsi Al Hikmah Karean Miliki Aplikasi Teknologi Yang Tepat Dan Layak

Menurut Basrowi, jumlah penjual jasa tukar uang baru di Jalan Bubutan tahun ini lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu bisa sampai 10 orang, sekarang paling cuma 3-5 orang di sini,” katanya.

Meski begitu, Basrowi tetap yakin bahwa tradisi pemberian angpau dalam bentuk uang baru masih diminati, terutama oleh keluarga besar yang merayakan lebaran bersama anak-anak.

Basrowi mulai berjualan sejak pukul 07.00 pagi hingga sore hari, bahkan hingga pukul 20.00 jika permintaan masih tinggi. Lokasi Jalan Bubutan dipilih karena strategis, dekat dengan pusat perbelanjaan seperti BG Junction dan pasar tradisional di sekitarnya.

“Kalau dekat-dekat lebaran, biasanya semakin ramai. Orang-orang datang habis belanja atau pulang kerja,” katanya.

Meskipun usaha ini menjanjikan, Basrowi mengakui bahwa risiko keamanan tetap menjadi ancaman. Beberapa waktu lalu, viral kasus penjambretan terhadap penjual jasa tukar uang baru di daerah lain seperti Malang. Namun, ia bersyukur bahwa di Jalan Bubutan belum pernah terjadi insiden serupa.

“Soalnya kita juga hati-hati. Kalau lihat ada gerombolan mencurigakan, langsung kita pindah tempat,” katanya.

Dalam empat hari berjualan, Basrowi mengaku telah mendapatkan omzet sekitar Rp5 juta.

“Masih ada harapan sampai H-1 lebaran. Biasanya semakin dekat lebaran, semakin banyak orang yang cari uang baru,” Pungkasnya. (alm)