Kisah Bu Fatimah

oleh -591 Dilihat

Surabaya, AIAnews.id – “Hawa panas Mekkah terasa menyengat kulit. Ribuan pasang mata tertuju pada Ka’bah, kiblat umat Islam. Di antara kerumunan itu, ada seorang wanita paruh baya yang matanya berkaca-kaca. Bu Fatimah, begitulah namanya, akhirnya berhasil mewujudkan impiannya untuk menunaikan ibadah haji. Perjalanan spiritualnya ini tidaklah mudah. Penyakit jantung yang dideritanya membuatnya harus berjuang ekstra keras. Namun, dengan semangat yang tak pernah padam, ia tetap berusaha mengikuti setiap rangkaian ibadah…”

Bu Fatimah berjalan tertatih dengan bantuan tongkatnya, ditemani seorang petugas kesehatan yang selalu siaga. Setiap langkah terasa berat, namun ia terus melangkahkan kakinya. Tatkala tiba di depan Ka’bah, air matanya tumpah membasahi wajahnya yang keriput. Dengan suara lirih, ia berdoa memohon ampunan dan rahmat Allah.

Selama di Arafah, Bu Fatimah merasa sangat lelah. Udara yang panas dan debu yang berterbangan membuatnya sesak napas. Namun, ia tetap berusaha bertahan. Ia ingat pesan suaminya sebelum berangkat, “Ibu harus kuat, ini kesempatan sekali seumur hidup.”

Di Muzdalifah, Bu Fatimah ikut melempar jumrah. Meski harus dibantu oleh petugas, ia merasa sangat bahagia bisa melaksanakan rukun haji yang satu ini. Saat itu juga, ia merasakan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Pada hari terakhir di Mina, kondisi Bu Fatimah mulai memburuk. Detak jantungnya semakin cepat dan napasnya semakin pendek. Petugas kesehatan segera membawanya ke klinik terdekat. Setelah mendapat perawatan intensif, kondisi Bu Fatimah mulai membaik.

Dengan hati yang penuh syukur, Bu Fatimah akhirnya bisa kembali ke tanah air. Meski fisiknya masih lemah, namun semangatnya tetap membara. Ia telah membuktikan bahwa dengan keimanan yang kuat, semua rintangan pasti bisa diatasi.

Baca Juga:  Diundang Khofifah Memotivasi Pelajar Sekolah Khadijah,Syekh Afeefuddin Al Jailani