Surabaya, AIANews.id – Kunjungan kerja Komisi A DPRD Surabaya ke Command Center 112 pada Kamis (14/11) mengungkap fakta mengejutkan. Empat Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di pusat kendali darurat kota ini ternyata sudah kadaluarsa sejak tiga tahun lalu. Selain itu, sejumlah monitor CCTV yang berfungsi memantau kondisi kota juga mengalami kerusakan.
Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko menyampaikan kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat Command Center 112 merupakan jantung sistem penanganan darurat Surabaya. Ratusan monitor yang beroperasi 24 jam non-stop meningkatkan risiko korsleting dan kebakaran.
Tanpa APAR yang berfungsi, potensi kerugian akibat kebakaran bisa sangat besar, mulai dari kerusakan peralatan hingga terganggunya layanan darurat bagi warga.
“Ini bukan hanya soal keamanan petugas, tapi juga keselamatan seluruh warga Surabaya. Command Center 112 harus selalu dalam kondisi prima untuk menjamin respon cepat terhadap segala bentuk kejadian darurat,” tegas Yona Bagus.
Menanggapi temuan ini, Yona Bagus mendesak Pemkot Surabaya untuk segera mengambil tindakan. Pihaknya memberikan waktu satu minggu untuk memperbaiki seluruh kekurangan atau kerusakan yang ditemukan.
DPRD juga akan melakukan pengawasan ketat untuk memastikan perbaikan dilakukan dengan benar dan tepat waktu.
“Kami berikan waktu sepekan untuk kekurangan yang kami temukan dibenahi, minimal APAR ini,” tegasnya.
Tidak hanya APAR yang kadaluarsa, dalam kunjungan ini Komisi A juga menemukan 14 monitor CCTV yang memantau seluruh kota mengalami kerusakan.
Kerusakan monitor juga berdampak pada efektifitas pemantauan kota. Informasi real-time dari CCTV sangat krusial dalam penanganan bencana atau kejahatan. Dengan monitor yang rusak, petugas kesulitan dalam mengidentifikasi masalah dan mengambil tindakan yang tepat.
“Kami temukan ada monitor CCTV mati dan tidak kunjung dibenahi. Ini perlu menjadi perhatian serius. CC112 ini objek vital, menyangkut keamanan seluruh warga Surabaya,” ujar anggota Komisi A, Tubagus Lukman Amin.
Pihaknya juganenyoroti ketidakstandaran sistem di Command Center 112. Menurut Tubagus, seharusnya ada exhaust untuk menyedot udara panas, tetapi kenyataannya tidak ada. Pendingin ruangan pun tidak memadai di kantor layanan kedaruratan tersebut.
“Kami tekankan lagi ini menyangkut kebutuhan darurat. Kalau CC Room bermasalah kemana lagi warga mau melapor ketika ada keadaan darurat” kata Ketua Fraksi PKB DPRD Surabaya itu.
Sementara itu Pdt Rio Pattiselano, Wakil Ketua Komisi A mendesak pemerintah kota untuk segera memperbaiki sistem Command Center 112. Menurutnya, waktu tunggu yang lama sebelum panggilan darurat diangkat menjadi kendala utama.
“Untuk masuk ke telepon dan ditanggapi petugas ini butuh waktu yang lama,” kata Politisi PSI itu.
Pihak BPBD berdalih bahwa sistem yang terpusat menjadi kendala. Namun, Rio berpendapat bahwa alasan tersebut tidak bisa diterima di era teknologi seperti sekarang. Masyarakat membutuhkan layanan yang cepat dan responsif.
“Kami kira alasan seperti itu tidak bisa diterima di era teknologi seperti ini. Kami. Meminta jalur line telepon ini dibenahi. Karena untuk memanggil ke CC112 ternyata sulit masuknya untuk diterima operator,” katanya.
Selain masalah teknis, kualitas petugas juga menjadi sorotan. Rio meminta agar petugas Command Center dilengkapi dengan pelatihan psikologis dan medis dasar. “Saat menerima panggilan darurat, petugas harus mampu memberikan ketenangan kepada pelapor dan memberikan petunjuk pertolongan pertama,” tambahnya. (alf)





