Pertarungan Tiga Srikandi Perempuan di Pilgub Jat

oleh -1450 Dilihat
Dia Puspitasari SSosio MSi, seorang sosiolog dan aktivis perempuan.

Surabaya, Aianews.id – Ada yang menarik dalam Pilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur. Ada 3 calon gubernur yang bertarung adalah kaum hawa dan background NU. Tentu pertarungan memperebutkan suara pemilih akan terasa panas

Dia Puspitasari SSosio MSi, seorang sosiolog dan aktivis perempuan menelaah, Jawa Timur (Jatim) dikenal sebagai basis Nahdlatul Ulama (NU), sehingga wajar jika banyak calon dari NU yang muncul.

“Selain itu, banyak calon perempuan yang menonjol di Jatim karena NU mendukung kesetaraan gender. Meskipun Ketua PBNU belum pernah perempuan, hal ini menunjukkan bahwa pemimpin perempuan dapat diterima dalam Islam, ” kata Dia kepada Memorandum.

Aktivis penggerak Rampak Sarinah ini menjelaskan bahwa Indonesia memiliki tradisi pemimpin perempuan, seperti sultana-sultana dan pemimpin perempuan di era Majapahit.

“Oleh karena itu, isu perempuan tidak boleh memimpin seharusnya sudah selesai,” ujarnya.

Dia yang juga sebagai dosen Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memaparkan, di Jatim, ketiga bakal calon Gubernur Jatim yakni Khofifah, Risma, dan Luluk telah menunjukkan kinerja yang baik dalam pemerintahan.

“Ketiganya bukan berasal dari dinasti politik, yang menunjukkan bahwa perempuan bisa memimpin jika diberi kesempatan. Kinerja mereka yang baik menunjukkan bahwa tidak ada calon laki-laki yang kuat untuk Pilgub saat ini, ” tegasnya.

Alumni Sosiologi UNAIR yang melanjutkan studi pascasarjana di UI program studi Sosiologi ini mengutarakan gaya kepemimpinan yang pro kesejahteraan menjadi alternatif yang patut dipertimbangkan.

“Contohnya adalah Bu Risma yang luar biasa dalam pekerjaannya di bidang lingkungan dan anak-anak, seperti rumah singgah untuk anak jalanan dan penanganan demantik, ” tutur Dosen muda yang pernah menjuarai Lomba Orasi di Tingkat Provinsi Jatim pada tahun 2016.

Baca Juga:  Prabowo Akan Terima PM Rusia Siang Ini

Sementara prempuan yang menjabat Ketua Umum Jaringan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (JMPI) membandingkan pembangunan pro kesejahteraan atau politik pro kesejahteraan juga ditunjukkan oleh Luluk yang getol membela isu-isu kesejahteraan tanpa bermain di elit.

“Ketiga tokoh ini menunjukkan alternatif politik yang pro kesejahteraan dan lingkungan, terutama Luluk. Meski saya belum begitu mengenal Mbak Khofifah, politik pro kesejahteraan dengan kepemimpinan feminim menjadi standar baru di Indonesia, yang dibarometeri oleh Jawa Timur, ” urainya.

Perempuan asli Surabaya ini menyampaikan bahwa Jawa Timur patut bangga karena mampu menjebol mental blok bahwa perempuan tidak bisa memimpin.

“Namun, agak sedih juga karena ketiganya bertarung di segmen yang sama, dan saya khawatir kekuatan uang akan berperan karena kita mewarisi pilpres yang sangat tidak rasional, ” ujarnya.

Dia berharap, mudah-mudahan ketiganya menunjukkan pertarungan yang berintegritas dan tidak adu duit, karena itu membodohi rakyat.

“Menurut saya, ketiganya Insya Allah tidak terlalu tertarik bermain uang. Mereka bukan orang dinasti dan jangan sampai diganggu oleh intervensi istana yang suka bagi-bagi bansos yang membuat pertarungan tidak fair, ” imbuhnya.

“Syaratnya, bebaskan ketiganya untuk berkompetisi secara sehat dan waspadai intervensi dari istana dengan APBN yang main-main. Saya harap ketiganya bermain dengan integritas, sehingga perempuan bisa membawa politik menjadi lebih bersih dan akuntabel. Biarkan rakyat diberikan permainan yang bagus, ” pungkasnya. (alm)

No More Posts Available.

No more pages to load.