Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia: Upaya dan Evaluasi Kesiapsiagaan Bencana

oleh -1169 Dilihat

Jakarta, 25/10/2024 – AIAnews.id | Indonesia, negara kepulauan, sebagian besar wilayahnya berupa lautan, dengan 70% wilayahnya tertutup air. Kondisi geografis ini membuatnya rentan terhadap bencana laut, khususnya tsunami, yang disebabkan oleh gangguan bawah laut seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Gelombang tsunami dapat melaju dengan kecepatan hingga 900 kilometer per jam, dan bertambah tinggi saat mendekati perairan yang lebih dangkal, sehingga menimbulkan dampak yang dahsyat. Tsunami yang terkenal di Indonesia termasuk tsunami Aceh pada tahun 2004 dan tsunami Palu pada tahun 2018.

Mitigasi bencana melibatkan upaya untuk meminimalkan risiko yang terkait dengan bencana alam dan bencana yang disebabkan oleh manusia, yang bertujuan untuk mengurangi korban dan kerugian. Tindakan utama meliputi operasi penyelamatan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan perbaikan infrastruktur. Aspek penting dari mitigasi adalah pemetaan daerah rawan bencana. Sebagai tanggapan terhadap meningkatnya ancaman tsunami, Indonesia membentuk Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS) pada tanggal 11 November 2008, yang dikelola oleh BMKG, yang memberikan peringatan dini untuk meningkatkan keselamatan masyarakat selama potensi gempa bumi dan tsunami.

Indonesia telah mengembangkan dua sistim utama, BOUY dan OBU (Ocean Bottom Unit), bekerja sama dengan negara-negara seperti Jerman, Amerika Serikat, dan Malaysia, yang menghasilkan pemasangan 24 BOUY. InaTEWS telah secara efektif memantau tinggi gelombang laut dan menggunakan sistem sirine untuk memperingatkan masyarakat tentang potensi tsunami. Namun, ada tantangan karena terbatasnya jumlah sirine yang tersedia. Misalnya, Pulau Lombok hanya memiliki dua sirine peringatan dini tsunami yang terletak di Pantai Ampenan dan Pantai Kuta, yang tidak memadai untuk kebutuhan masyarakat.

Informasi bencana di Indonesia dikomunikasikan secara efektif melalui berbagai saluran, termasuk Radio Komunikasi Codan yang beroperasi melalui jaringan satelit untuk menjangkau daerah-daerah yang tidak terjangkau telepon. Media sosial telah muncul sebagai platform utama untuk menyebarkan informasi bencana, dengan BPBD Provinsi NTB memanfaatkan Facebook, Instagram, Twitter, dan aplikasi NTB Siaga.

Baca Juga:  Pengaruh Jaminan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Primer di Perkotaan Indonesia: Adilkah Bagi Masyarakat Miskin?

Inisiatif pemerintah untuk melindungi warga dari gempa bumi dan tsunami patut dipuji dan harus lebih dikembangkan. Selain itu, keterlibatan masyarakat sangat penting untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan menjaga fasilitas tanggap bencana agar tetap efektif.

Sumber :
https://journal.unhas.ac.id/index.php/SENSISTEK/article/download/31670/10783   https://ejurnal.tunasbangsa.ac.id/index.php/jsakti/article/view/319/298 https://jpfis.unram.ac.id/index.php/GeoScienceEdu/article/download/219/172/1271