Inilah Alur Drama Kolosal yang Mengibarkan Semangat Juang Polri

oleh -244 Dilihat

Surabaya, AIAnews.id – Drama Kolosan akan menjadi salahkan satu agenda dalam Peringatan Hari Juang Polri pada Rabu 21 Agustus 2024, di Monumen Perjuangan Polri Jalan Polisi Istimewa, Surabaya.

Dalam drama kolosal tersebut akan menggambarkan lahirnya Polisi Republik Indonesia (Polri) hingga menjadi tulang punggung bagi rakyat Indonesia dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pada masa Penjajahan Jepang Polisi Istimewa terbentuk untuk menjaga dan mengamankan kedudukan tentara Jepang dan menertibkan rakyat yang sedang mereka jajah.

Namun sejak 17 Agustus 1945 diproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia, salah satu Polisi Istimewa bernama Nainggolan yang mendapatkan kabar dari kantor berita Dumai, lantas kemudian bersama teman polisi Istimewa lainya pada 19 Agustus 1945 memberanikan diri menurunkan bendera Jepang dan mengibarkan bendera Merah Putih pertama kali di Jawa Timur.

Ketua Komunitas Surabaya Juang Heri Lentho mengatakan bahwa dalam alur drama kolosal tersebut diawali jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima yang menandakan Jepang kalah atas sekutu.

“Dan bangsa kita memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pengangsaan Timur 56, Jakarta. Dan saat sore harinya berita kemerdekaan diketahui oleh Markonis kantor berita Dumai di Surabaya, Jepang marah-marah atas berita itu, dan melarang untuk disebarkan,” kata Heri.

Kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disiarkan dalam bahasa Madura u tuk mengelabui Jepang telah sampai di asrama Tokubetsu Keisatsutai pada 19 Agustus 1945.

Dan pada pagi hari seorang Agen Polisi III Nainggolan dan kawan-kawan polisi istimewa, langsung mengganti bendera Jepang dengan bendera Merah Putih.

“Tiang benderanya dililitkan kawat berduri, agar inspektur Jepang tidak dapat menggantikan bendera Merah Putih. Peristiwa inilah menandai untuk pertama kali bendera merah putih telah berkibar di bumi wetan tanah Majapahit Jawa Timur,” jelasnya.

Baca Juga:  Puluhan Karyawan UD Sentosa Seal Sebatas Konsultasi ke Polres Perak Belum Laporan

Melihat kejadian tersebut, Inspektur Jepang marah-marah. Selanjutnya dibawah pimpinan inspektur Mohamamad Yasin pasukan Polisi Istimewa untuk melakukan pengamanan pada seluruh instruktur Jepang. Serta memerintahkan untuk membongkar gudang senjata yang berada di belakang markas polisi Istimewa.

“Dengan dukungan laskar rakyat Dinoyo pada 21 Agustus 1945, Polisi Istimewa pimpinan Mohammad Yasin melakukan apel pagi untuk membacakan Proklamasi Polisi,” ucapnya.

“Kemudian M. Yasin memerintahkan semua pasukan diminta untuk melakukan patroli ke arah selatan dan ke Utara Kota Surabaya sembari mengabarkan bahwa Polisi Sekarang adalah Polisi Republik Indonesia,” tambahnya.

Masih lanjut Heri Lentho, bahwa kabar kemerdekaan Republik Indonesia tidak bisa diterima oleh para interniran Belanda yang berada di Surabaya. Untuk menunjukan akan kembali menjajah Dan berkuasa bumi Indonesia.

Dengan mengatasnakan Palang Merah International dan Lembaga RAFWI mereka merayakan Hari Ratu Wilhelmina dengan mengibarkan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya.

Atas kejadian itu, sontak membuat marah seluruh arek Surabaya, begitu juga polisi yang selalu siaga. Salah satunya sosok Hariyono ajudan Residen Sudirman yang berpakaian polisi dan Sidik telah mendampingi Residen untuk menegur dan meminta Mr Ploegnan dan kawan kawan, agar segera menurunkan bendera Belanda.

“Terjadi perdebatan dan perkelahian, disaat yang genting Hariyono sebagai ajudan, menyelamatkan Residen Sudirman. Dan berinisiatif menaiki gedung untuk merobek bendera warna biru dengan digigit dan berkibarlah merah putih,” ungkapnya.

Kemudian terdengarlah sirine dan kendaraan sekutu melintas dengan menyebarkan ultimatum untuk menyerah. Yang direspons dengan suara arek Suroboyo yang siap melawan ancaman sekutu dan ditambah pidato Bunga Tomo mengudara yang semua mendengarkan, lantas di pagi hari terjadilah pertempuran 10 November 1945.

“Perlawanan arek-arek Suroboyo dan para laskar rakyat berdatangan ke Surabaya, begitu juga komponen tentara Rakyat, dan tentara pelajar bersatu melawan Sekutu yang kita ketahui 10 November sebagai hari Pahlawan,” pungkasnya. (alm)