Jakarta, 21/11/2024 – AIAnews.id | Kritikal Jurnal
Sumber Jurnal : https://journal.unigha.ac.id/index.php/JSR/article/download/866/807
Abstrak
Abstrak ini sudah mencakup informasi penting, Tetapi,penyajiannya dapat disederhanakan untuk meningkatkan keterbacaan. Kalimat pembuka tentang diare sebagai penyakit endemis terlalu umum dan bisa dipadatkan. Selain itu, penggunaan istilah seperti “penelitian bersifat deskriptif analitik dengan desain cross sectional” dapat dijelaskan lebih sederhana agar lebih mudah dipahami pembaca awam. Bagian hasil penelitian menyebutkan banyak angka, tetapi disajikan dalam kalimat panjang yang bisa membingungkan. Akan lebih baik jika hasil utama, seperti proporsi diare dan hubungan faktor sanitasi dengan kejadian diare, dirangkum secara singkat tanpa terlalu banyak detail statistik. Penutup abstrak, yang menyebutkan kesimpulan dan hubungan yang ditemukan, sudah baik tetapi bisa lebih ringkas dan to the point. Misalnya, cukup disebutkan bahwa terdapat hubungan antara penyediaan air bersih, pembuangan tinja, penyakit infeksi, dan penyediaan makanan dengan kejadian diare pada balita. Hal ini akan membuat abstrak lebih padat, jelas, dan mudah dipahami.
Temuan dan Analisis Data
Metodologi Penelitian:
Pertama, penggunaan teknik proportional random sampling untuk mengambil 70 sampel dari total populasi 227 ibu balita cukup representatif. Tetapi,penjelasan lebih banyak mengenai distribusi karakteristik sampel seperti usia, tingkat pendidikan, atau status sosial ekonomi diperlukan. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi perilaku ibu dalam hal penyediaan air bersih, pembuangan tinja, maupun sanitasi makanan. Tanpa penjelasan lanjut ini, sulit untuk menentukan apakah sampel benar-benar mewakili populasi seluruhnya.
Analisis Data:
Hasil analisis menggunakan uji Chi-square memang menunjukkan hubungan antara variabel-variabel lingkungan (penyediaan air bersih, pembuangan tinja) dan perilaku (penyimpanan makanan) dengan kejadian diare, penelitian ini cenderung hanya berfokus pada pengujian hubungan (asosiasi) tanpa menjelaskan lebih jauh tentang seberapa besar kontribusi setiap faktor terhadap kejadian diare. Misalnya, analisis multivariat seperti regresi logistik dapat memberikan gambaran yang cukup mengenai faktor dominan.
Interpretasi Hasil:
Beberapa interpretasi yang disampaikan cenderung terlalu generalisasi. Contohnya, temuan bahwa mayoritas balita dengan akses air tidak bersih mengalami diare (p-value = 0,002) memang menunjukkan hubungan yang cukup besar. Tetapi, penjelasan bahwa air sungai atau sumur dekat jamban menjadi penyebab utama perlu didukung dengan data tambahan, seperti hasil pengujian kualitas air. Tanpa bukti empiris tambahan, argumen ini berisiko menjadi asumsi semata.
Hal serupa juga terlihat dalam pembahasan mengenai pembuangan tinja. Data menunjukkan bahwa 57,6% balita yang diare berasal dari keluarga dengan pembuangan tinja kurang baik., Penelitian ini tidak menjelaskan lebih jauh apakah perilaku ini merupakan kebiasaan yang meluas di komunitas atau hanya terbatas pada kelompok tertentu. Penyediaan jamban yang memadai atau program edukasi perilaku hidup sehat di wilayah penelitian juga tidak dijelaskan sebagai bagian dari solusi.
Meskipun temuan penelitian ini sesuai dengan literatur terdahulu, seperti penelitian Dista (2018) dan teori Fahri (2021), tidak ada inovasi atau perbedaan temuan yang cukup menonjol. Ini membuat penelitian kurang memberikan kontribusi baru bagi pengetahuan di bidang kesehatan lingkungan. Sebagai mahasiswa, saya berharap penelitian ini lebih meluas misalnya dengan mempelajari faktor budaya atau kebijakan setempat yang memengaruhi perilaku masyarakat.
Kontribusi Jurnal
Jurnal ini memberikan kontribusi penting terhadap ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kesehatan masyarakat dan lingkungan, dengan mengidentifikasi berbagai faktor risiko yang memengaruhi kejadian diare pada balita. Penelitian ini menunjukkan bahwa penyediaan air bersih, pembuangan tinja yang tidak higienis, adanya penyakit infeksi, serta cara penyiapan dan penyimpanan makanan memiliki hubungan dengan kejadian diare. Adanya hasil ini, jurnal memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk mengarahkan intervensi kesehatan masyarakat, seperti meningkatkan akses terhadap air bersih, memperbaiki fasilitas sanitasi, dan edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Jurnal ini mempertegas pentingnya sanitasi makanan dalam mencegah diare, yang merupakan penyakit berbasis lingkungan dan masih menjadi masalah kesehatan utama di banyak daerah. Menggunakan metode analisis statistik seperti uji Chi-square, penelitian ini juga memberikan validasi ilmiah terhadap hubungan antara variabel-variabel tersebut, sehingga dapat digunakan sebagai referensi dalam pengambilan kebijakan kesehatan. Secara keseluruhan, jurnal ini berkontribusi tentang pencegahan penyakit diare dan membantu menciptakan langkah-langkah yang berbasis pengetahuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Kelebihan dan Kekurangan Jurnal
Jurnal ini memiliki beberapa kelebihan yang cukup jelas. Salah satunya adalah penggunaan metode penelitian yang terstruktur dan sistematis. Penelitian ini memilih sampel secara acak dan proporsional, yang membantu memastikan bahwa hasil penelitian dapat diterapkan pada populasi yang lebih besar. Selain itu, analisis statistik yang digunakan, yaitu uji Chi-square, juga tepat untuk melihat hubungan antara variabel yang diteliti, sehingga hasilnya bisa dianggap valid. Penelitian ini sangat relevan terhadap masalah kesehatan yang sering terjadi, seperti diare pada balita, terutama di daerah-daerah akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai. Oleh karena itu, temuan dalam jurnal ini dapat memberikan wawasan penting untuk kebijakan kesehatan di masa depan.
Tetapi,jurnal ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah kurangnya pembahasan tentang faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi kejadian diare, seperti kondisi sosial-ekonomi keluarga, pendidikan orang tua, atau pola makan anak. Penelitian ini lebih banyak menekankan pada faktor lingkungan seperti air bersih dan sanitasi, padahal faktor non-lingkungan juga bisa berpengaruh besar terhadap kesehatan balita. Selain itu, meskipun jumlah sampel yang diambil cukup banyak (70 orang), penelitian ini hanya dilakukan di satu lokasi, yaitu di wilayah kerja Puskesmas Menggamat, Kabupaten Aceh Selatan. Ini membatasi kemungkinan untuk menggeneralisasi temuan ke daerah lain yang mungkin memiliki kondisi berbeda. Penelitian menggunakan sampel yang lebih besar dan dari berbagai daerah akan memberikan hasil yang lebih menyeluruh.
Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran yang bisa dipertimbangkan untuk penelitian selanjutnya agar bisa mendapatkan penelitian tentang faktor-faktor penyebab diare pada balita. Pertama, sebaiknya penelitian berikutnya melibatkan sampel yang lebih banyak dan berasal dari berbagai daerah terhadap kondisi sosial dan ekonomi yang berbeda. Penelitian ini hanya dilakukan di satu wilayah saja, yaitu Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan. Padahal, kondisi akses terhadap air bersih dan sanitasi bisa berbeda-beda di setiap daerah. Adanya pengambilan sampel yang lebih beragam, hasil penelitian akan lebih dapat diterapkan di berbagai daerah dan memberikan gambaran yang lebih lengkap.
Kedua, penelitian selanjutnya sebaiknya juga mempertimbangkan faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi kejadian diare pada balita, seperti tingkat pendidikan orang tua, kondisi ekonomi keluarga, serta pola makan anak. Faktor-faktor ini penting untuk dipelajari karena selain lingkungan, perilaku keluarga juga memegang peranan besar dalam pencegahan diare. Jika penelitian selanjutnya bisa menggabungkan faktor-faktor ini, maka akan lebih mudah untuk memahami secara keseluruhan bagaimana hubungan antara lingkungan dan kebiasaan keluarga dalam menjaga kesehatan balita.
Untuk penelitian di masa depan, diperlukan memperhatikan aspek lain yang memengaruhi kesehatan lingkungan, seperti kualitas pengelolaan sampah dan infrastruktur sanitasi di daerah penelitian. Meneliti mengenai pengelolaan sampah dan kondisi jamban keluarga akan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang faktor penyebab diare pada balita.Terakhir, penelitian selanjutnya bisa mempertimbangkan program edukasi atau penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya sanitasi dan kebersihan air. Adanya program semacam ini, diharapkan bisa mengurangi angka kejadian diare pada balita serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.


